Tasikmalaya Pecahkan Rekor MURI dengan 2.417 Porsi Ketupat Tanjung, Gaungkan Kuliner Khas ke Kancah Dunia
Tasikmalaya– berhasil menorehkan sejarah baru yang membanggakan! Suasana semangat kebersamaan menyelimuti Lapangan Eks Terminal Bus Cilembang, Kota Tasikmalaya, ketika ribuan warga secara serentak menyantap Ketupat Tanjung, kuliner ikonik daerah mereka. Festival spektakuler ini bukan sekadar perayaan biasa, melainkan sebuah momentum bersejarah untuk memecahkan Rekor MURI kategori Penyajian Ketupat Tanjung Terbanyak dengan jumlah yang sangat simbolis: 2.417 porsi.

Baca Juga : Perangko Khusus Soekarno Diluncurkan, Peringati 80 Tahun PBB Dan 75 Tahun Kemitraan Indonesia
Lebih dari Sekadar Makan Bersama, Ini adalah Sejarah yang Disantap
Angka 2.417 bukanlah angka sembarangan. Angka ini dipilih dengan penuh makna untuk mengukir hari jadi Kota Tasikmalaya yang ke-24, bertepatan dengan. Sejak pukul 06.00 WIB, lahan eks Terminal Cilembang telah dipadati oleh ribuan warga dari berbagai penjuru kota. Dengan antusiasme tinggi, mereka rela mengantre panjang untuk mendapatkan secangkir hidangan istimewa yang dibagikan secara gratis oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya.
Acara kolosal ini merupakan hasil kolaborasi yang apik antara Pemkot Tasikmalaya, Indonesia Chef Association (ICA), serta melibatkan puluhan relawan dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Rahasia di Balik Keunikan Ketupat Tanjung
Lalu, apa yang membedakan Ketupat Tanjung dengan ketupat dari daerah lain? Rahasianya terletak pada air asin alami dari Kampung Tanjung, Kecamatan Kawalu. Keunikan inilah yang membuat Ketupat Tanjung tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki daya tahan yang lebih lama, tidak mudah basi.
Dalam sambutannya, Wali Kota Tasikmalaya, Bapak Viman Alfarizi Ramadhan, menyampaikan kebanggaannya atas tercapainya rekor ini. “Alhamdulillah, pencapaian ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang semangat kita bersama. Rekor MURI ini kita harapkan dapat menjadi pelontar untuk membawa nama Kota Tasikmalaya bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga ke kancah internasional. Keunikan Kupat Tanjung dengan bahan baku air asin alami adalah modal besar kita,” tegas Viman.
Komitmen Pemerintah untuk Menduniakan Kuliner Khas
Viman juga menegaskan komitmen kuat pemkot untuk mengembangkan dan mempromosikan Kupat Tanjung sebagai salah satu ikon kuliner utama Tasikmalaya. “Kedepannya, program pengembangan Kupat Tanjung akan menjadi prioritas dalam agenda Tasik PELAK (Pembiayaan Ekonomi Lokal dan Kewilayahan). Kami juga berencana agar Kupat Tanjung menjadi sajian wajib untuk menjamu tamu-tamu penting di hotel-hotel di Tasikmalaya,” paparnya.
“Intinya, di usia ke-24 ini, kami ingin warga Tasikmalaya merasakan kebahagiaan dan turut serta dalam perayaan yang membanggakan ini. Ini adalah momentum kebersamaan kita,” ujar Diky.
Dukungan dan Harapan dari Berbagai Pihak
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Anggota DPR RI, Ibu Lola Nelria Oktavia, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada cita rasa Ketupat Tanjung. “Pokoknya, Kupat Tasik ini tidak ada duanya! Keunikan rasanya datang dari air yang hanya bisa ditemui di Kelurahan Tanjung. Ini adalah warisan kuliner yang sangat berharga,” ucap Lola dengan antusias.
Ia berharap kuliner ini dapat menjadi magnet baru untuk mendongkrak perekonomian lokal. “Dengan keunikannya yang hanya ada di Tasik, Kupat Tanjung berpotensi menjadi daya tarik wisata kuliner yang mendunia. Saya percaya, Kota Tasikmalaya harus dan akan mendunia!” serunya.
Sebuah bukti nyata bahwa semangat kebersamaan dan kecintaan pada budaya lokal dapat melahirkan prestasi yang membanggakan, sekaligus mengantarkan kuliner khas Tasikmalaya menuju panggung yang lebih luas.
Dampak dan Langkah Ke Depan: Memacu Ekonomi Kreatif dan Pariwisata Kuliner
Akibatnya, gelaran akbar ini tidak hanya meninggalkan kenangan manis, tetapi juga memicu optimisme baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner. Selanjutnya, pemerintah kota berencana memetakan dan memberdayakan para perajin Ketupat Tanjung.
Sementara itu, antusiasme warga terus berlanjut bahkan setelah acara usai. Banyak pengunjung yang kemudian langsung berbondong-bondong mencari warung-warung yang menjual Ketupat Tanjung di sekitar Kawasan Tanjung. Hal ini jelas menunjukkan bahwa festival ini berhasil menjadi pemantik minat masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai kuliner lokal mereka.
Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun ekonomi berbasis kearifan lokal. Oleh karena itu, ke depannya, kita akan melihat program pendampingan berkelanjutan. Misalnya, pelatihan standarisasi rasa, inovasi kemasan, dan strategi pemasaran digital untuk para pelaku usaha. Dengan kata lain, Ketupat Tanjung tidak hanya akan menjadi hidangan tradisional, melainkan juga produk ekonomi kreatif yang kompetitif.
Bahkan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat sudah menyusun roadmap khusus
Sebagai langkah awal, mereka akan mempromosikan Kampung Tanjung sebagai ‘Kampung Wisata Kuliner Ketupat‘. Kemudian, mereka akan mengintegrasikannya dengan destinasi wisata lain di Tasikmalaya. Alhasil, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga untuk mengalami pengalaman kuliner yang autentik.
Tak kalah pentingnya, dukungan dari berbagai pihak terus mengalir. Asosiasi Chef Indonesia (ICA) berkomitmen untuk memasukkan Ketupat Tanjung ke dalam materi pelatihan chef muda. Selain itu, mereka akan menggalang kolaborasi untuk menciptakan varian menu kekinian berbahan dasar ketupat ini, sehingga dapat menarik minat generasi muda.





