Tasikmalaya Gempar! Aksi Premanisme “Bang Jago” Berakhir di Tangan Polisi Usai Intimidasi Sopir Truk Gegara Tolak Beli Air
Tasikmalaya– Jagat maya kembali dihebohkan dengan aksi premanisme yang terjadi di jantung Kota Tasikmalaya. Sebuah video yang memperlihatkan seorang sopir truk menjadi korban intimidasi berhasil menyita perhatian publik. Penyebabnya sepele, namun menyisakan keprihatinan mendalam: penolakan untuk membeli air minum kemasan.

Baca Juga : Insiden Mencemaskan Di Dapur MBG SPPG, Asap Genset Lukai Tiga Nyawa
Insiden yang memicu kemarahan warganet ini terjadi di kawasan Gunung Putri, Kecamatan Kawalu. Seorang sopir truk harus menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari sekelompok pria, hanya karena berani menolak paksaan untuk membeli barang dagangan mereka.
Bukan sekadar penolakan verbal, aksi pemaksaan ini berubah menjadi tindakan agresif. Pelaku, yang diduga merupakan bagian dari kelompok tersebut, tak segan merusak properti korban. Kaca spion truk yang menjadi alat vital pengemudi, dengan sengaja ditepis dan dilipat paksa, menunjukkan tingkat keberingasan yang mengkhawatirkan.
Merasa dirugikan dan dipermalukan, sang sopir truk yang memiliki keberanian, mengambil langkah cerdas
Dengan menggunakan ponselnya, ia mengabadikan seluruh kejadian sebagai bukti. Rekaman berdurasi 27 detik itu kemudian ia unggah ke platform TikTok melalui akun @riswan.tatto3, yang kemudian menjadi viral dan menyulut gelombang solidaritas serta kecaman publik.
Dalam video yang beredar luas itu, suara sang sopir truk terdapat jelas menarasikan ketidakberdayaannya. “Lapor bang nilepkeun spion (lapor bang melipatkan spion). Tah jelema na tah (nih orangnya),” ujarnya, sambil mengarahkan kamera kepada pelaku.
Situasi makin mencekam ketika pelaku menyadari dirinya sedang direkam. Amarahnya meledak. Ia bahkan nekat mengejar truk yang dikendarai korban. Dalam aksi pengejaran yang tidak rasional itu, nyawanya hampir melayang. Pria berbaju biru tersebut nyaris tertabrak bus yang melaju di belakangnya ketika ia tiba-tiba berhenti di tengah jalan dalam keadaan emosi.
Efek viralitas video tersebut ternyata membuahkan hasil. Polsek Kawalu Polres Tasikmalaya Kota bergerak dengan sigap menanggapi laporan masyarakat yang gempar. Kapolsek Kawalu, AKP Yusuf Setianto, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah berhasil mengamankan pria yang diduga sebagai pelaku intimidasi.
“Betul, udah dijemput dan diamankan oleh anggota,” kata Yusuf, memberikan kepastian kepada publik.
Meski pelaku telah diamankan, pihak kepolisian masih mendalami motif dan latar belakang kejadian ini. Yusuf menyatakan bahwa pemeriksaan intensif masih terus dilakukan untuk mengungkap keseluruhan fakta dan kemungkinan keterlibatan pihak lain.
“Masih melakukan interogasi terhadap pria tersebut,” tegasnya, menutup ruang untuk spekulasi.
Identitas pelaku pun berhasil terungkap. Pria berinisial ES (49), warga Kecamatan Parungponteng, Kabupaten Tasikmalaya, ini ternyata bukan wajib baru. Dalam pergaulan di kalangan sopir, ia dikenal dengan julukan yang cukup disegani, ‘Bang Jago’.
Fenomena yang terungkap ini hanyalah puncak dari gunung es. Dari pantauan di lapangan, praktik penjualan air minum kemasan yang “diamankan” ini telah berlangsung lama di jalur menuju Tasikmalaya Selatan.
Di titik-titik strategis, tampak kelompok pria—yang kerap mengenakan seragam atau atribut organisasi masyarakat tertentu—dengan agresif menawarkan, atau lebih tepat memaksa, air kepada para pengendara. Sopir truk dan pengemudi kendaraan barang menjadi sasaran empuk dari praktik premanisme yang terselubung ini.
Kasus ini kembali memantik pertanyaan tentang keamanan dan kenyamanan bagi para pengemudi, khususnya yang melintas di jalur-jalur tertentu. Masyarakat berharap, penanganan oleh kepolisian terhadap ‘Bang Jago’ bukan hanya sekadar penyelesaian satu kasus, tetapi menjadi momentum tegas untuk memberantas praktik premanisme serupa yang masih terjadi di sekeliling kita.
Menurut Kapolres Tasikmalaya Kota, AKBP Gagas Pramudya Yulianto, pihaknya telah lama menyelidiki keluhan para sopir tentang pemerasan terselubung di jalur tersebut. “Ini bukan kasus tunggal. Sebaliknya, kami menemukan adanya pola terorganisir di mana sekelompok orang memanfaatkan atribut tertentu untuk memaksa sopir membeli air dengan harga yang tidak wajar,” tegas Gagas dalam konferensi persnya.
Lebih lanjut, Gagas menjelaskan bahwa modus operandi mereka cukup terstruktur
“Mereka biasanya menempatkan beberapa orang di titik-titik strategis, seperti tanjakan atau turunan, di mana truk berjalan pelan. Kemudian, mereka akan menghampiri sopir dengan cara yang agresif. Sebagai contoh, ada yang membersihkan kaca depan tanpa diminta, lalu meminta bayaran tinggi. Contoh lainnya, seperti dalam kasus ini, langsung memaksa untuk membeli air,” paparnya.
Sebagai bentuk tindak lanjut, jajaran Polda Jabar kini menggelar operasi khusus untuk membersihkan jalur logistik dari praktik premanisme. Selain itu, mereka juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan elemen masyarakat untuk mencegah munculnya ‘Bang Jago-Bang Jago’ baru.
Sementara itu, respon masyarakat terhadap langkah tegas polisi ini sangat positif. Banyak pengemudi, khususnya sopir truk dan bus, merasa lega. “Kami berterima kasih kepada polisi dan sopir yang berani melaporkan. Dengan demikian, kami berharap perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman,” ujar Dani, seorang sopir truk yang kerap melintas di rute tersebut.
Pada akhirnya, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Dengan kata lain, keberanian satu orang untuk melawan, didukung oleh kekuatan media sosial dan respon cepat aparat, terbukti mampu mengungkap dan memberantas sebuah jaringan yang telah lama bercokol. Masyarakat pun berharap, langkah ini bukan hanya sekadar operasi sesaat, melainkan awal dari penegakan hukum yang berkelanjutan di sepanjang jalur nasional.





